RADAR POS, AMBON - Provinsi Maluku menduduki urutan Keenam (4) dengan prevelansi stunting tertinggi di Indonesia, mencapai 28,4%. Bahkan jauh lebih tinggi dari prevalensi stunting nasional 19,8%.
Tingginya prevalansi stunting diakui langsung Wakil Gubernur (Wagub) Maluku, Abdullah Vanath (AV) saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) mitra dalam rangka percepatan penurunan Stunting di Provinsi Maluku pada, Selasa (04/11/2025).
Dikatakan, stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi, tetapi juga oleh rendahnya pengetahuan orang tua, pola asuh yang keliru, dan kondisi ekonomi keluarga yang lemah.
"Pola asuh menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting. Dibanyak daerah, anak-anak menikah diusia muda, belum memahami cara merawat bayi dengan baik, dan akhirnya anak-anak mereka rentan terhadap stunting" katanya.
Dirinya menambahkan, bahwa pendidikan dan peningkatan ekonomi keluarga menjadi faktor penting dalam memastikan terpenuhinya gizi anak.
"Jika ekonomi keluarga kuat, kebutuhan nutrisi bayi pasti terpenuhi. Namun bila belum, pemerintah harus hadir dengan langkah mitigasi dan program pemberdayaan," tegasnya.
Vanath menekankan, bahwa penurunan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan kolaborasi dilintas sektor, termasuk bidang pertanian, kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan.
"Bicara stunting berarti bicara soal nutrisi, pola asuh, lingkungan, dan kesehatan. Karena itu semua instansi harus berperan. Pemerintah Daerah (Pemda) telah membentuk tim percepatan penurunan stunting yang dipimpin oleh Wagub sendiri," jelasnya.
Lanjut AV juga menyampaikan, bahwa mulai tahun 2026, program percepatan stunting akan diperkuat dalam perencanaan daerah dengan melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan organisasi mitra agar langkah penanganan lebih terukur dan terkoordinasi.
Untuk itu, Vanath mengajak seluruh pihak untuk menjadikan gerakan penurunan stunting sebagai gerakan bersama dan berkelanjutan. AV mengibaratkan penanganan stunting seperti merawat pohon pala yang produktif karena dirawat dengan baik menggambarkan pentingnya perhatian dan perawatan terhadap tumbuh kembang anak.
"Kita tidak perlu banyak anak, yang penting anak-anak kita produktif dan sehat. Anak-anak inilah yang akan menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) unggul menyongsong Indonesia Emas 2045," pungkasnya. (team)
0 Comments:
Posting Komentar