RADAR POS, AMBON - Persoalan keterlibatan masyarakat Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dalam perekrutan tenaga kerja untuk proyek Blok Masela kembali mendapat sorotan. Pemuda asal Kabupaten MBD, Douglas Kodah, mengaku kecewa terhadap respons Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa saat menemui massa aksi dikantor Gubernur Maluku, Senin (05/10/2026).
Douglas menilai, respons pemerintah daerah saat menerima aspirasi massa belum menyentuh substansi utama yang diperjuangkan, yakni keterlibatan masyarakat MBD dalam proses perekrutan tenaga kerja untuk proyek strategis tersebut.
Menurutnya, kedatangan mahasiswa dan masyarakat ke Kantor Gubernur bukan bertujuan mengganggu aktivitas pemerintahan, melainkan menyampaikan keresahan terkait kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.
Ia menyebut, kekecewaan muncul setelah Gubernur Hendrik Lewerissa mempertanyakan keberadaan massa dan menyinggung aksi yang dinilai menimbulkan kebisingan ketika aktivitas pemerintahan sedang berlangsung.
"Kalau dalam pernyataan Gubernur Maluku saat temui massa aksi katanya kami datang membuat berisik karena sementara kerja, sedangkan ketika kami diminta sampaikan poin tuntutan kami soal perekrutan tenaga kerja di Blok Masela yang tidak melibatkan masyarakat MBD sebagai daerah terdampak dan daerah penghasil, itu saja Gubernur Maluku tidak tahu," tegas Kodah.
Douglas mempertanyakan bagaimana pemerintah dapat memberikan solusi terhadap keresahan masyarakat jika persoalan yang menjadi inti tuntutan massa belum diketahui secara jelas.
"Kerja apa yang sekelas flyer perekrutan tenaga kerja saja tidak tahu," ucap Kodah.
Dirinya menegaskan, tuntutan masyarakat MBD bukan berarti meminta pekerjaan tanpa mempertimbangkan persyaratan maupun kompetensi. Namun, menurutnya, masyarakat lokal harus memperoleh informasi yang transparan serta kesempatan yang adil untuk mengikuti proses perekrutan sesuai kebutuhan dan kualifikasi pekerjaan.
SOROTI SIKAP PEMERINTAH
Selain mempersoalkan proses perekrutan tenaga kerja, Douglas juga mengkritik cara pemerintah menerima penyampaian aspirasi masyarakat.
Ia berharap pemerintah dapat membuka ruang komunikasi yang lebih baik ketika menerima tuntutan masyarakat, terutama jika aspirasi tersebut berkaitan langsung dengan kepentingan daerah dan masa depan masyarakat lokal.
"Kalau orang yang tenang bisa memahami beliau punya bicara. Bagi beta pribadi, apa yang Gubernur bicara tidak masuk di logika," kesal Kodah.
Douglas juga mengaku kecewa karena terdapat sejumlah orang tua dan senior asal MBD yang turut hadir dalam penyampaian aspirasi tersebut.
"Baru tadi juga Gubernur Hendrik Lewerissa seng hargai katong punya orang tua sekaligus katong punya senior disamping. Beta juga kecewa disitu," ujar Kodah.
Dirinya menegaskan, kritik tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kepentingan masyarakat MBD, khususnya menyangkut peluang kerja yang muncul dari pengembangan Blok Masela.
"Pemerintah itu ada karena rakyat memilih. Kantor Gubernur juga bukan milik pribadi. Karena itu, masyarakat punya hak menyampaikan aspirasi," terang Kodah.
DORONG DIALOG DAN TRANSPARANSI
Douglas meminta pemerintah daerah tidak hanya melihat aksi masyarakat dari sisi gangguan terhadap aktivitas perkantoran, tetapi juga memahami persoalan yang mendorong masyarakat turun menyampaikan aspirasi.
Ia mendorong adanya forum dialog yang melibatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku, masyarakat MBD, mahasiswa, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), serta pihak perusahaan untuk membahas secara terbuka mekanisme perekrutan tenaga kerja Blok Masela.
Menurutnya, transparansi mengenai jenis pekerjaan, jumlah kebutuhan tenaga kerja, persyaratan, hingga mekanisme perekrutan penting agar tidak menimbulkan kecurigaan dan kecemburuan ditengah masyarakat.
Disisi lain, ia juga meminta pemerintah memperkuat pendidikan vokasi, pelatihan, dan sertifikasi bagi tenaga kerja lokal. Dengan demikian, masyarakat MBD dapat meningkatkan kompetensi dan memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada proyek tersebut.
"Ini bukan soal kita mengemis pekerjaan. Ini soal hak masyarakat untuk mendapatkan kesempatan," kat Kodah.
Dirinya berharap persoalan perekrutan tenaga kerja Blok Masela dapat diselesaikan melalui komunikasi terbuka dan dialog yang konstruktif. Ia mengingatkan, aspirasi masyarakat perlu ditanggapi secara serius agar persoalan kesempatan kerja bagi masyarakat MBD tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas. (MRP)
0 Comments:
Posting Komentar