Sosok Bapak. Karel Albert Ralahalu menempati ruang tersendiri dalam sejarah kepemimpinan di provinsi Maluku. Pada peringatan ulang tahunnya yang ke-80, jejak pengabdian mantan Gubernur Maluku dua periode ini kembali dikenang sebagai contoh kepemimpinan yang menempatkan kemanusiaan, dialog, dan pengorbanan diatas kepentingan pribadi.

Karel A. Ralahalu memimpin provinsi Maluku pada dua periode, yakni 2003 - 2008 dan 2008 - 2013, sebuah masa yang tidak mudah. Saat pertama kali menerima amanah sebagai gubernur, Maluku masih berada dalam situasi pasca konflik sosial yang menyisakan luka mendalam ditengah masyarakat.

Menjadi orang nomor satu di daerah dengan kondisi seperti itu bukanlah perkara ringan. Sebelum terjun ke dunia politik daerah, Karel A. Ralahalu dikenal sebagai perwira TNI yang sempat menjabat Danrem 174/Pattimura. Ia bahkan dijuluki sebagai "Danrem Tercepat" karena hanya menjabat sekitar dua pekan sebelum memasuki masa pensiun.

Setelah itu, ia diperbantukan di PT. Freeport Indonesia, sebuah posisi yang dinilai banyak kalangan cukup prestisius dan mapan. Namun, panggilan untuk mengabdi kepada tanah kelahirannya membuat Karel A. Ralahalu mengambil keputusan besar.

Atas permintaan almarhum Jhon Mailoa dan dukungan sejumlah partai politik yang berkoalisi, ia bersedia maju sebagai Calon Gubernur (Cagub) provinsi Maluku. Keputusan itu menandai kesediaannya melepaskan kenyamanan pribadi demi daerah yang sedang membutuhkan figur pemersatu.

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Maluku periode pertama, Karel A. Ralahalu yang berpasangan dengan Memet Latuconsina berhasil meraih dukungan mayoritas dari 45 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi Maluku. Banyak pihak kala itu memprediksi gaya kepemimpinannya akan cenderung keras dan otoriter, mengingat latar belakang militernya. Namun, prediksi tersebut tidak terbukti.

Sebaliknya, Karel A. Ralahalu justru menampilkan kepemimpinan yang humanis dan inklusif. Ia dikenal terbuka terhadap dialog, aktif bertemu tokoh agama, tokoh adat, pemuda, perempuan, organisasi kemasyarakatan, serta rutin turun langsung ke daerah-daerah terpencil untuk mendengar aspirasi warga.

Pendekatan masyarakat sipil (Civil Society) menjadi ciri kuat kepemimpinannya. Sikap rendah hati, kesabaran, dan "Tangan Dingin" yang ia tunjukkan perlahan membawa Maluku menuju situasi yang lebih aman dan harmonis.

Dalam konteks kepemimpinan profetik, Karel A. Ralahalu dinilai telah "Menyangkal Diri". Melepaskan kepentingan dan keinginan pribadi demi kepentingan masyarakat luas. Nilai kultural Maluku seperti laeng sayang laeng, laeng bantu laeng kembali hidup ditengah masyarakat yang sebelumnya terbelah oleh konflik.

Pada periode kedua kepemimpinannya, Karel A. Ralahalu berpasangan dengan Said Assagaff (Bib). Pola kepemimpinannya tetap konsisten: dekat dengan rakyat, mengedepankan dialog, serta menjaga kohesivitas sosial. Bersama masyarakat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) mulai merehabilitasi infrastruktur, membangkitkan sektor ekonomi kecil dan menengah, mengembangkan pariwisata, serta terus menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian di bumi raja-raja.

Di usia ke-80 tahun, Karel Albert Ralahalu dikenang bukan semata-mata sebagai mantan gubernur, tetapi sebagai pemimpin yang hadir dimasa sulit dan memilih jalan pengabdian. Doa dan penghormatan mengalir untuknya, agar senantiasa diberkati bersama istri, anak, dan cucu, sebagai bagian dari sejarah di Maluku yang pernah disatukan oleh keteladanan dan ketulusan. (MRP)

0 Comments:

Posting Komentar

 
Radar Pos © 2015. All Rights Reserved.
Top