RADAR POS, AMBON - Bentrokan antar pemuda kembali mengguncang wilayah Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra). Insiden yang terjadi di Desa Danar Ternate, Kamis (26/03/2026) hingga Jumat dini hari itu menimbulkan keresahan warga setelah sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan, serta beberapa korban luka, termasuk dari aparat kepolisian.
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang konflik serupa yang berulang diwilayah itu. Situasi ini dinilai mengancam stabilitas keamanan dan keharmonisan sosial yang selama ini dijaga masyarakat setempat.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku, Benhur G. Watubun, SH angkat bicara dan mengecam keras kejadian tersebut. Ia menilai bentrokan antar pemuda tidak lagi bisa dianggap sebagai konflik biasa, melainkan sinyal menurunnya nilai persaudaraan yang menjadi ciri khas masyarakat di Maluku.
Menurutnya, generasi muda seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan daerah, bukan justru terlibat dalam aksi kekerasan yang merusak tatanan sosial. Ia juga menegaskan bahwa konflik seperti ini berpotensi menghambat masa depan daerah jika tidak segera ditangani secara serius.
Benhur, mendesak aparat keamanan untuk bertindak tegas terhadap para pelaku bentrokan. Penegakan hukum yang adil dan konsisten dinilai penting untuk memberikan efek jera sekaligus mencegah konflik serupa kembali terjadi.
Selain itu, ia mendorong peran aktif Pemerintah Daerah (Pemda) bersama tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dalam meredam situasi. Upaya dialog dan pendekatan persuasif dinilai perlu dilakukan untuk memulihkan hubungan antar kelompok pemuda yang terlibat konflik.
Watubun, juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membina generasi muda agar tidak mudah terprovokasi. Menurutnya, konflik sosial seringkali dipicu persoalan kecil yang tidak diselesaikan dengan baik sejak awal.
Mengakhiri pernyataannya, Politisi PDI-Perjuangan ini mengajak masyarakat Kabupaten Malra untuk kembali mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal, menjaga persatuan, serta menolak segala bentuk kekerasan yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan sosial.
"Peristiwa ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga mencederai nilai adat dan budaya masyarakat Kei yang menjunjung tinggi perdamaian," tegasnya. (MRP)
0 Comments:
Posting Komentar